Dalam setiap wisuda, salah satu yang sering disampaikan oleh pak Rektor kepada para wisudawan adalah pentingnya softskill bagi kesuksesan hidup selanjutnya. Dalam beberapa kali wisuda, wakil dari alumni (umumnya alumni yang sukses meniti jenjang karir hingga berada pada posisi yang bergengsi) sering dijadikan sebagai contoh bagaimana keberhasilan yang bersangkutan ditunjang oleh kemampuan softskill yang baik.
Sebagai seseorang yang sudah mendedikasikan hidupnya sebagai pendidik, maka permasalahan softskill selalu menjadi kerisauan saya. Saya selalu menggugat diri saya, jurusan, fakultas dan UII tentang apa sumbangannya bagi terbetuknya softskill mahasiswa. Tentunya kita tidak bisa menuntut sesuatu yang tidak kita programkan untuk mahasiswa. Dalam hal ini mahasiswa dituntut memiliki softskill yang baik, namun apa program kita untuk mereka sehingga mereka punya softskill yang memadai.
Dalam satu kesempatan saya pernah diskusi dengan pengelola program ONDI, LKID, BTAQ, Mentoring, tentang apakah program-program yang mereka buat itu sudah diarahkan untuk membentuk softskill mahasiswa ataukah belum. Belum lagi sekarang ada program pesantrenisasi mahasiswa, apakah programnya mengarah kepada softskill tidak…? Namun ternyata saya berani mengambil kesimpulan bahwa di UII ini penanganan softskill mahasiswa masih tidak jelas arah dan tujuannya, tidak ada konsep yang matang untuk ini.
Itulah barangkali yang mendorong saya membuat program tersendiri kepada mahasiswa Informatika untuk membangun softskill mereka. Saya merasa mereka adalah anak-anak saya, maka saya bertanggung jawab atas terbentuknya kompetensi dan softskill mereka. Maka sejak 2 tahun lalu di Informatika dikembangkan program Student Soft Skill Development (S3D). Untuk menjalankan program ini saya gunakan dana pengembangan laboratorium, karena memang tidak ada jatah dana untuk kegiatan seperti ini. Ketika memasuki tahun kedua pelaksanaan S3D, maka saya mulai sadar bahwa seharusnya program semacam ini bukan hanya untuk Informatika saja tapi untuk setiap mahasiswa UII. Kalaulah boleh berbagi tanggung jawab, maka seharusnya jurusan lebih focus untuk membentuk hardskill (dalam artian menjalan kurikulum dengan baik) sementara rektorat atau paling tidak dekanat bertanggung jawab terhadap kegiatan2 seputar sofskill ini. Alhamdulillah tahun ini kegiatan S3D diambil alih oleh dekanat dalam pelaksanaannya. Lha bagaimana dengan rektorat..?
Dari informasi kiri dan kanan, ternyata beberapa prodi juga membuat program yang mengarah pada maksud yang sama namun dengan konsep dan implementasi berbeda. Saya yakin setiap prodi sebenarnya punya keinginan yang sama untuk melakukan hal serupa namun barangkali terkendala banyak hal. Melihat hal ini, seharusnya kegiatan terkait dengan softskill ini ditangani oleh Rektorat dengan konsep yang utuh dan terintegrasi serta dengan implementasi yang sistematis. Barangkali polbangmawanya UII perlu ditinjau ulang.
S3D yang saat ini dikembangkan adalah fokusnya adalah pada penyiapan mahasiswa untuk memiliki mental dan jiwa yang baik dalam memasuki dunia kemahasiswaan. Bagaimana migrasi mereka dari remaja menjadi dewasa disadari dengan betul yang tentunya akan berdampak pada model pendidikan dewasa yang akan mereka terima selama menjadi mahasiswa. S3D sebenarnya bukan segala-galanya untuk pembentukan softskill mahasiswa. Ini hanya langkah awal, atau dalam istilah pak Fathul adalah turning point. Seharusnya ada kelanjutan dari S3D. Impian saya adalah selama mereka kuliah dan sebelum mereka lulus masih ada sejumlah tahapan lain dari kelanjutan S3D ini. Namun terus terang saja tenaga di jurusan sangatlah terbatas dan tidak mampu untuk menangani hal ini. Saya berharap di tingkat rektorat ada unit khusus yang memang concern untuk memikirkan program softskill mahasiswa ini. Dan pada titik akhir, barulah ACC berperan untuk memoles lulusan/wisudawan agar memiliki kesiapan terjun di dunia kerja.
Salah satu permasalahan klasik yang sering terdengar adalah keluhan bahwa lulusan perguruan tinggi ternyata tidak memenuhi kualifikasi yang diharapkan oleh dunia pekerjaan. Keluhannya adalah bahwa lulusan perguruan tinggi umumya memiliki karakteristik sebagai berikut :kurang tangguh, tidak jujur, cepat bosan, tidak bisa bekerja teamwork, minim kemampuan berkomunikasi lisan dan menulis laporan dengan baik. Selain itu keluhan yang juga sering muncul dari para pelaku dunia kerja adalah ungkapan-ungkapan sebagai berikut : “pintar sih pintar tapi kok gak bisa bekerja sama dengan orang lain” atau “jago sih bikin konsep, namun sayangnya tidak bisa meyakinkan ide hebat itu pada orang lain”, atau “baru teken kontrak 1 tahun tapi sudah mundur, kurang tahan banting, nih,”.
Kondisi diatas tentunya menjadi masukan dan bahan evaluasi bagi dunia pendidikan. Ternyata ada gap antara apa yang diberikan dalam perkuliahan dengan apa yang akan dihadapi dalam dunia nyata. Dalam hal ini ada kecenderungan bahwa apa yang diberikan di bangku kuliah tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan di lapangan kerja. Dan gap itu adalah softskill. Kemampuan nonteknis yang tidak terlihat wujudnya (intangible) namun sangat diperlukan itulah prinsipnya yang disebut dengan softskill. Menurut penelitian di Eropa, kesuksesan seseorang di dunia kerja 80% ditentukan oleh kemampuan softskill dan 20% kemampuan hardskill.
Umumnya dalam setiap pekerjaan, seseorang harus memiliki 4 hal yaitu :
- pengetahuan atau keterampilan khusus atau kompetensi teknis (hard skill), termasuk di dalamnya juga pengetahuan mengenai industri atau organisasi;
- pengalaman di suatu bidang atau sering dikenal sebagai jam terbang;
- kompetensi perilaku atau sering juga disebut soft skill/managerial skill dan
- kepribadian.
Menurut survei dari National Association of College and Employee (NACE), USA (2002), kepada 457 pemimpin, tentang 20 kualitas penting seorang juara. Hasilnya berturut-turut adalah :
- kemampuan komunikasi,
- kejujuran/integritas,
- kemampuan bekerja sama,
- kemampuan interpersonal,
- beretika,
- motivasi/inisiatif,
- kemampuan beradaptasi,
- daya analitik,
- kemampuan komputer,
- kemampuan berorganisasi,
- berorientasi pada detail,
- kepemimpinan,
- kepercayaan diri,
- ramah,
- sopan,
- bijaksana,
- indeks prestasi (IP >= 3,00),
- kreatif
- humoris, dan
- kemampuan berwirausaha.
Terlihat, IP yang kerap dijadikan sebagai indicator kehebatan seorang mahasiswa ternyata berada dalam urutan ke Urutan yag diatasnya malah hal-hal yang umumnya dijadikan sebagai syarat standar dalam iklan lowongan pekerjaan.
Bercermin kepada data tersebut, maka softskill adalah sesuatu yang sangat penting. Hanya saja bagaimana strategi agar softskill ini menjadi bagian dari aktivitas kampus atau perkuliahan. Dalam hal ini menurut Patrick S. O’Brien dalam bukunya Making College Count, soft skill dalam masa perkuliahan dapat dikategorikan ke dalam 7 area yang disebut Winning Characteristics, yaitu,
- communication skills,
- organizational skills,
- leadership,
- logic,
- effort,
- group skills, dan
- ethics.
Seyogyanya, setiap dosen memiliki model dan metode yang sama dalam menyisipkan proses pembentukan softskill lewat aktivitas perkuliahannya.
Umumnya materi-materi kurikulum dan model deliverynya lebih ditumpukan pada aktivitas yang mengarah pada hard skill. Tentu kedepan hal ini harus diubah orientasinya agar materi kurikulum juga mengarah pada pengembangan soft skill. Paling tidak dengan menerapkan 7 aktivitas diatas.
Konsep pengembangan softskill kadang disebut juga dengan istilah hidden curriculumn. Maknanya adalah serangkaian aktivitas yang sifatnya adalah non SKS namun menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kurikulum resmi yang berSKS.
Pada beberapa perguruan tinggi Implementasi soft skill tersebut dapat dilakukan baik melalui kurikulum maupun kegiatan ekstrakurikuler. Ada juga perguruan tinggi yang memasukkannya sebagai aktivitas wajib namun non SKS dalam bentuk kegiatan workshop, misalnya Presentation and Writing Skills atau Book Review. Di sebuah perguruan tinggi lain hal-hal terkait dengan softskill secara teoritis malah diberikan nilai SKS dalam bentuk mata kuliah character building. Beberapa perguruan tinggi memilah softskill dari sisi kegiatan di kelas dan luar kelas, dalam kelas dititipkan pada setiap dosen sementara yang luar kelas diserahkan pada berbagai aktivitas ekstrakurikuler mahasiswa.
Salah satu upaya yang menarik untuk membentuk softaskill mahasiswa adalah apa yang dilakukan oleh STT Telkom. Di STT Telkom ini pengembangan soft skill diarahkan pada kegiatan nonakademik. Implemenyasinya adalah dalam bentuk adanya konsep Transkrip Aktivitas Kemahasiswaan (TAK). TAK ini merupakan syarat ikut wisuda dan akan diberikan mendampingi transkrip akademik saat mahasiswa lulus. Mahasiswa diwajibkan untuk mengikuti berbagai aktivitas dan setiap aktivitas memiliki skor tertentu, selanjutnya mahasiswa baru layak untuk diwisuda bila skor TAKnya telah memenuhi batas minimal nilai tertentu. Maka berbagai aktivitas mahasiswa dari mulai aktivitas di himpunan, menulis artikel di media massa, peserta lomba, asisten praktikum, anggota kelompok seni dan olahraga tertentu, menjadi peserta pertandingan, dll semuanya akan menyumbang skor tertentu yang terekan dengan baik dalam TAK. Tentunya fokusnya bukan hanya sekedar skor, tapi dibalik setiap aktivitas kemahasiswaan yang diikuti sebenarnya telah terasah satu karakter softskill tertentu.
Bagaimana dengan peran dosen..? Kuliah adalah investasi berharga bagi masa depan mahasiswa. Salah satu yang seharusnya dilatih semasa kuliah adalah belajar untuk belajar. Belajar untuk melakukan proses, agar logika dan keterampilan kita terasah. Untuk terbentuknya softskill mahasiswa salah satu faktor yang sangat berpengaruh adalah dosen. Maka, attitude dosen juga menjadi living example dari terbentuknya softskill mahasiswa. Perilaku dosen dalam datang tepat waktu, koreksi tugas, komunikasi dalam dan luar kelas,mengoreksi tugas,dsb. adalah salah satu yang akan berkontribusi bagi terbentuknya softskill mahasiswa. Dalam hal ini NKD (Nilai Kinerja Dosen) harusnya dimaknai pula sebagai umpan balik bagi dosen dalam hal memfasilitasi terbentuknya sofskill mahasiswa. Dosen dengan attitude yang baik tentunya akan berkorelasi dengan nilai NKD yang juga baik.
Dengan uraian panjang lebar diatas, maka sudah seharusnya masalah softskill ini ditangani secara terpadu. Kalaupun program-program bidang 3 di UII saat ini sudah mengarah pada pembentukan softskill, namun arah tersebut tentunya harus lebih jelas dan lebih terintegrasi, dan tersosialisasi. Karena hingga saat ini saya masih merasa bahwa pengembangan softskill di UII masih belum jelas wujudnya.
(Tulisan ini terinspirasi oleh postingan sebuah milis yang di tulis oleh : dewi irma dengan alamat email : kampus_pr@yahoo.com)