Yudi Prayudi

Fikara : The Expression of a Belief

Bookmark and Share
  • Motivasi

    Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing him self (Leo Tolstoy) The pessimist sees difficulty in every opportunity The optimist sees the opportunity in every difficulty (Winston Churchil)
  • Tags

  • Arsip Artikel

  • Gallery

    dsc00167.jpg dsc00088.jpg dsc02716.jpg dsc02686.jpg
  • Subscribe

Ranking Terbaru Webometric Juli 2009

Posted by prayudi on July 31st, 2009

 

Tepat tanggal 31 Juli 2009, Cybermetric Lab kembali mengeluarkan versi terbaru ranking webometric. Tentunya hasil ini sangatlah ditunggu-tunggu. Untuk katagori negara Indonesia, maka laporan lengkapnya dapat dilihat di link berikut ini

Tabel ringkasnya beserta perbandingan ranking webometric untuk 3 versi terakhir dapat dilihat pada gambar dibawah ini. 


 

Kabar baiknya untuk dunia pendidikan tingi Indonesia adalah semakin banyaknya perguruan tinggi yang masuk dalam ranking 6000 besar. Kalau untuk versi Januari 2009 hanya ada 33 PT, maka untuk versi Juli 2009 meningkat menjadi 39 PT. Tercatat 7 pendatang baru PT Indonesia yang masuk dalam 6000 besar webometric. Diantara pendatang baru  yang cukup fenomenal adalah Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Negeri Malang. Kedua Universitas ini selama ini belum pernah masuk dalam rangking webometric, namun untuk versi Juli 2009 langsung melejit menembus rangking 3000 dunia. Ck…ck…ck…. salut dech untuk team ITnya. Saya yakin bukan karena mukjijat tapi hasil kerja keras dan usaha sungguh-sungguh dari team ITnya.

Selain yang fenomenal, ada juga yang dramatis….. Turun drastis bahkan terlempar dari rangking 6000. Yang paling dramatis adalah merosotnya rangking Ubinus. Siapapun tidak meragukan kualitas ITnya Ubinus ini, dan wajar kalau dalam dalam 3 periode selalu berada dalam urutan atas. Namun kali ini ranking Ubinus turun dari rangking 3026 dunia menjadi ranking 4713, dan untuk wilayah Indonesia dari posisi 14 menjadi posisi 30. Yang lebih mengenaskan adalah posisinya Universitas Jendral Sudirman, dari posisi 4572 dunia menjadi diatas 6000 alias tidak terdaftar lagi dalam list 6000 PT dunia.

Bagaimana dengan UII ? Alhamdulillah, dalam 6 bulan terakhir berbagai upaya telah dilakukan untuk menyesuaikan sistem web UII dengan sejumlah kriteria webometric. Hasilnya cukup menggembirakan, untuk posisi dunia naik dari 3821 menjadi 3058 dan untuk posisi Indonesia dari 24 menjadi 16. Kenaikan ini ditunjang sekali dengan naiknya skor untuk unsur Scholar yang cukup fantastis dari 8014 menjadi 887. Kenaikan ini tidak lepas dari upaya team untuk memperbayak kapasitas dokumentasi elektronik yang diunggah ke web UII. Namun sayangnya skor untuk UII mengalami penurunan untuk unsur visibility dari 2564 menjadi 5662. 

Data analisis lengkap untuk pencapaian skor webometric versi Juli 2009 adalah sebagaimana pada Gambar dibawah ini.


 

 

Posted in Pendidikan Tinggi, TIK | 6 Comments »

Bisnis Seluler dan Industri Kreatif

Posted by prayudi on February 5th, 2009

Ke depan, ekonomi kreatif secara umum dan industri kreatif khususnya diyakini akan menjadi primadona. Ada tiga alasan yang mendasari keyakinan tersebut, yaitu hemat energi karena lebih berbasis pada kreativitas, lebih sedikit menggunakan sumber daya alam, dan menjanjikan keuntungan lebih tinggi.

Ketiga faktor di atas juga ditopang oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang belimpah. Saat ini jumlah penduduk Indonesia sekitar 230 juta. Populasi yang berusia 15-29 tahun berkisar 40,2 juta atau hampir 18,4% merupakan pasar yang sangat gemuk bagi produk-produk industri kreatif.

Aktivitas ekonomi kreatif meliputi 14 subsektor, yakni periklanan; arsitektur; pasar barang seni; kerajinan; desain; busana; video, film, dan fotografi; permainan interaktif; musik; seni pertunjukan; penerbitan dan percetakan; layanan komputer dan peranti lunak; televisi dan radio; serta riset dan pengembangannya.

Data Departemen Perdagangan (2006) menyebutkan subsektor yang kontribusinya terbesar pada produk domestik bruto (PDB) adalah busana 44%. Disusul kerajinan 28%, periklanan dan desain masing-masing 7%, arsitektur 3,2%, percetakan dan penerbitan 3,5%, serta musik 3%.

Sumbangan radio dan televisi 2%; riset dan pengembangan serta layanan komputer dan peranti lunak masing-masing 1%. Subsektor yang sumbangannya terhadap PDB kurang dari 1% adalah pasar barang seni (0,6%); permainan interaktif (0,3%); film, video, dan fotografi (0,3%); serta seni pertunjukan (0,1%).

Artikel Lengkap dapat dibaca di Duflex

Posted in TIK | 5 Comments »

Ranking UII Versi Webometric 2009

Posted by prayudi on January 27th, 2009

Pada tanggal 26 Januari 2009, Webometric kembali mengeluarkan Ranking Web Of World Universities. Dalam tulisan saya sebelumnya, yaitu versi bulan Juli 2008, telah diuraikan bagaimana posisi UII dalam peringkat versi webometric ini. Nah bagaimanakah versi tahun 2009 ini..? Tabel dibawah ini memberikan resume khusus untuk PT dari Indonesia yang masuk dalam Top 5000 webometric Januari 2009.

Gambar diatas menunjukkan analisa singkat saya dengan membandingkan antara data webometric versi July 2008 dengan versi January 2009. Kelangkapan analisa diatas dapat dibaca di blog saya yang lain.

Bagaimana untuk UII..? Hasil secara rangking dunia yang meningkat dari 4425 menjadi 3821 sebenarnya cukup surprises buat saya. Sebulan yang lalu saya sempat memberikan masukan pada fihak BSI, dengan sistem dan mekanisme penanganan situs UII, yang menurut saya masih agak mbulet, saya memprediksi rangking webometric UII pada bulan Juli ini akan turun. Karena itu saya memberikan masukan agar hal terkait dengan situs  dan domain uii untuk segera ditangani dengan lebih konsisten dan terintegrasi. Namun ternyata, Alhamdulillah rangking UII naik, kalau bulan Juli berada dalam Top 5000, maka untuk Januari ini boleh bangga sedikit berada dalam Top 4000.

Secara spesifik kita lihat individual rangking untuk setiap elemen skoring. Naiknya rangking UII ternyata sangat dipengaruhi oleh point visibility. Untuk point ini rangking UII meningkat dari 4795 menjadi 2564. Cukup drastis naiknya. Sebagaimana kita ketahui metode perangkingan webometric menggunakan 4 komponen, yaitu : size,visibility, rich file dan scholar. Dalam hal ini aktivitas sebuah perguruan tinggi  tidak cukup hanya diukur dari sisi keberadaan web sitesnya. Oleh karena itu maka webometric melakukan sejumlah pengukuran dengan beberapa kelompok indikator yang mewakili aspek yang berbeda. Untuk kepentingan ini, maka penentuan ranking webometric ditentukan oleh 4 indikator, yaitu :

  • Size (S). Jumlah pages yang terindek oleh empat source engine utama yaitu :  Google, Yahoo, Live Search dan Exalead.

  • Visibility (V). Jumlah keseluruhan  unique external links  (inlinks) yang terdeteksi oleh  Yahoo Search, Live Search and Exalead.

  • Rich Files (R). Dari sekian banyak file yang terdeteksi maka dipilah file yang memiliki tingkat relevansi terhadap aktivitas akademik dan publikasi ilmiah, dalam bentuk file : Adobe Acrobat (.pdf), Adobe PostScript (.ps), Microsoft Word (.doc) and Microsoft Powerpoint (.ppt).

  • Scholar (Sc). Secara khusus Google Scholar akan memberikan jumlah paper dan sitasi dari setiap domain akademik.

Meningkatnya visibility untuk UII tidak lepas dari upaya integrasi beberapa domain non uii.ac.id menjadi uii.ac.id. Artinya dalam tahap ini program dan kebijakan BSI cukup membawa hasil bagi meningkatnya tingkat visibility domain uii.ac.id oleh sejumlah search engine yang digunakan webometric. Sayangnya untuk indikator lainnya ternyata rangking UII malah turun. Dari sisi size, rich file dan scholar ternyata rangkin UII turun semua. Harus ada upaya dan program sistematis untuk mengatasi bagaimana agar 3 indikator tersebut dapat meningkat untuk edisi berikutnya.

Dari sisi kompetitor, ternyata sejumlah PT di luar UII yang tahun lalu tidak masuk Top 5000, malah sekarang rangkinnya melejit naik bahkan melewati UII. Tentunya bukan sesuatu yang ujug-ujug, mesti ada sesuatu program dan manajamen TI yang mereka siapkan. Artinya kalau UII hanya mengandalkan program alamiah saja, yaa.. siap-siap kesalip sama yang lain.

Saya pribadi mengusulkan beberapa hal untuk peningkatan peringkat webometric UII, diantaranya adalah :

  •  Beberapa perguruan tinggi mengangap release webmeotric adalah cukup strategis, maka mereka melakukan persiapan khusus dengan membentuk semacam task force untuk melakukan SWOT dan program 6 bulan kedepan sehingga pada saat release berikutnya ada perbaikan hasil. Tidak salahnya saya kira UII juga melakukan hal yang sama, membentuk task force, sehingga dalam 6 bulan kedepan memberikan masukan dan upaya yang fokus pada satu aktivitas tertentu yang akan berdampak pada peringkat webometric.
  • UGM, ITB dan UI, telah mulai mengkonversi situsnya sehingga main pagenya menjadi berbahasa Inggris. Walaupun situsnya baik dan contentnya menarik, tapi kalau masih menggunakan bahasa lokal tetap akan mempenagruhi proses pemeringkatan webometric. Sehingga saya usulkan main page situs uii.ac.id adalah berbahasa Inggris.
  • Benar-benar mengkaji tips dan trik yang dianggap sah oleh webometric sebagaimana termuat dalam best practicenya. Dengan panduan dari best practice tersebut saya kira memang harus ada beberapa perbaikan dari manajemen situs uii.ac.id.

Dari sisi rangking Indonesia, UII ternyata turun dari posisi 21 menjadi posisi 24. Untuk lokal Yogya sendiri, ternyata UII kalau dari UNY, Sadar dan Dutawacana. Lho kok bisa…? Ya bisa, saya tahu betul bahwa untuk edisi Januari 2008 Sadar masuk dalam Top 5000, tapi dalam edisi Juli 2008 Sadar terlempar dari Top 5000. Kini kerja keras mereka berbuah, Sadar masuk kembali ke Top 5000 bahkan nyalip UII dan Dutawacana. Artinya orang lain bersungguh-sungguh untuk memperbaiki infrastruktur mereka agar bisa masuk webometric. Dan tentunya, sekali masuk webometric, bisa dijual lewat berbagai kemasan promosi.  
 

 

 

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Pusat Studi dan Layanan Teknologi Kreatif

Posted by prayudi on January 20th, 2009

PUSAT STUDI  DAN LAYANAN TEKNOLOGI KREATIF  

(PUSLATIF)

Centre for Creative Technology Studies and  Services

 C-CreTSS

Latar Belakang

Perkembangan dunia komputer telah membawa dampak pada penggunaan teknologi komputer pada berbagai aspek masyarakat. Dalam hal ini multimedia dan Gim Komputer adalah teknologi yang sudah dikenal luas dan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat saat ini.  Disisi lain, perkembangan dunia komputerpun telah memberikan dampak pada inovasi teknologi pembelajaran, baik dari sisi materi maupun prosesnya. Dengan demikian, sinergi antara multimedia, gim dan teknologi pembelajaran akan memberikan  nilai lebih bagi pemanfaatan teknologi komputer  dalam kehidupan manusia.

Sinergi antara tiga bidang : multimedia, gim dan teknologi pembelajaran, dalam beberapa tahun terakhir ini telah melahirkan sebuah istilah baru, yaitu teknologi kreatif. Dalam hal ini teknologi kreatif dimaknai antara lain :

Creative technology is an area where digital technology is impacting in the arts, leisure, education and entertainment fields and specialises in subjects like web design, graphics, animation, video, audio and music.

Creative Technologies is revolutionizing learning through the development of interactive digital media.

Prinsipnya teknologi kreatif adalah bagaimana memanfaatkan berbagai media interaktif (animasi, video, grafik, gim, sound, desain) untuk meningkatkan performa digital content bidang lainnya seperti pembelajaran, seni dan hiburan. Pada beberapa institusi pendidikan di luar negeri, bidang teknologi kreatif telah menjadi sebuah kajian ilmu tersendiri.

Pada masa mendatang, salah satu aplikasi komputer yang dapat bersinergi dengan bidang ilmu lainnya adalah bidang teknologi kreatif.  Dalam hal ini, hampir semua bidang ilmu membutuhkan pelibatan multimedia untuk kepentingan eksplorasi bidang keilmuannya. Demikian juga dengan gim komputer, banyak aspek dari bidang keilmuan lain yang dapat diintegrasikan dalam game komputer. Sementara inovasi teknologi pembelajaran akan melibatkan pemanfaatan multimedia dan game komputer . Dengan demikian tiga bidang : multimedia, game dan teknologi pembelajaran adalah sebuah bidang yang memiliki prospek yang sangat baik dimasa yang akan datang.  Untuk kepentingan itulah maka aktivitas kearah penelitian dan pemanfatan serta layanan teknologi kreatif menjadi sesuatu yang sangat strategis.

Untuk lebih memberikan focus terhadap berbagai aspek disekitar teknologi kreatif serta bagaimana pemanfatan dan layanannya pada masyarakat maka dibentuklah sebuah institusi dibawah Jurusan Teknik Informatika dengan nama Pusat Studi dan Layanan  Teknologi Kreatif (PusLaTif).

Tujuan

Pusat Studi dan Layanan  Teknologi Kreatif (PusLaTif) ini bertujuan untuk :

  • Menjadi platform penelitian interdisipliner yang melibatkan dosen dan mahasiswa dalam upaya eksplorasi teori, metode, dan teknik pada bidang multimedia, game dan teknologi pembelajaran untuk menghasilkan berbagai inovasi yang dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.
  • Melakukan berbagai aktivitas layanan pada bidang multimedia, game dan teknologi pembelajaran baik dalam lingkup institusi maupun masyarakat luas.
  • Menjadi media bagi civitas akademik Jurusan Teknik Informatika  Universitas Islam Indonesia untuk menjalin kerjasama dan jaringan dengan institusi lain  baik didalam didalam maupun di luar negeri yang bergerak pada bidang multimedia, game dan teknologi pembelajaran

 

Fokus Utama

Yang menjadi core dari PusLatif ini adalah bidang ilmu multimedia, komputer gim dan teknologi pembelajaran. Aktivitas institusi ini diharapkan akan mampu menjawab pertanyaan mendasar sebagai berikut :

  • Bagaimanakah sesungguhnya karateristik dari teknologi kreatif
  • Bagaimana pemanfaatan teknologi kreatif ini pada berbagai bidang ilmu dan kebutuhan masyarakat.
  • Bagaimanakah sinergi bidang teknologi kreatif ini mampu memberikan solusi bagi berbagai upaya inovasi teknologi yang akan mencerdaskan dan mensejahterakan masyarakat.

Untuk periode tahun 2009 – 2011, fokus dari aktivitas dikemas dalam sebuah tema : Creative, Effective, Innovative and Intelligent Technology for Better Education : from eLearning to iLearning

Aktivitas Institusi

Untuk memenuhi apa yang menjadi fokus utama serta menghasilkan sebuah output yang bernilai sesuai dengan tema diatas, maka beberapa aktivitas yang akan dilakukan adalah :

  • Mengadakan penelitian-penelitian yang terkait dengan bidang multimedia, komputer gim dan teknologi pembelajaran.
  • Membuat modul-modul pelatihan yang sesuai untuk meningkatkan kemampuan TIK pada dosen, mahasiswa dan masyarakat luas.  Disertai.  dengan berbagai model workshop internal ataupun eskternal .
  • Melakukan publikasi dalam bentuk buku, jurnal, makalah terkait bidang multimedia, game dan tekniologi pembelajaran.
  • Mengadakan seminar dengan tema issue perkembangan bidang multimedia, game dan teknologi pembelajaran.
  • Membuka kesempatan kepada mahasiswa untuk melakukan tugas akhir penelitian yang berfokus pada aspek-aspek bidang teknologi kreatif.
  • Menjalin berbagai upaya kerjasama untuk meningkatkan kapasitas institusi pada bidang multimedia, game dan teknologi pembelajara.

Pemrakarsa

Untuk saat awal,  daftar personel yang memprakarsai pendirian PusLatif ini adalah  :

  1. Yudi Prayudi, S.Si, M.Kom  (Multimedia, Game dan Learning Technology) 
  2. Ami Fauzijah, ST.MT (Multimedia)
  3. Affan Mahtarami, S.Kom (Game Technology)
  4. Beni Suranta ST (Learning Technology)

Pada masa yang akan datang, sangat diarapkan keterlibatan mahasiswa dan dosen dari prodi yang lain di lingkungan UII.

Posted in Pendidikan Tinggi | 2 Comments »

Tim Berners Lee

Posted by prayudi on January 7th, 2009

Kalau saja ini merupakan bidang sains tradisional, Berners-Lee dapat meraih hadiah Nobel. Apa yang telah dia lakukan sangat penting. (CEO perusahaan Novell, Eric Schmidt) 

Dalam dunia ilmu pengetahuan, penghargaan Nobel adalah penghargaan yang sangat bergengsi. Tentunya Nobel menjadi cermin apresiasi warga planet bumi terhadap prestasi keilmuan yang diraih oleh seseorang. Dari tahun ketahun, secara spesifik Nobel Foundation memberikan penghargaan Nobel kepada individu atau organisasi yang berjasa bagi kemajuan ilmu dibidang Kimia, Fisika, Ekonomi, Sastra, Kedokteran, Perdamaian. Dari sekian banyak bidang ilmu tersebut, kelihatannya bidang yang terkait dengan teknologi informasi dan komputer belum ada yang berhasil mendapatkan penghargaan nobel ini.

Didasari oleh itu semua, maka komunitas komputer berusaha membuat kampanye agar ada juga penghargaan nobel bagi ilmuwan dan peneliti di bidang TIK ini. Tim Berners Lee adalah termasuk yang diusulkan untuk mendapat penghargaan Nobel ini.Paling tidak ada tiga temuan utama yang dihasilkan oleh Tim Berners Lee, yaitu :

  • The uniform resource identifier (URI), untuk mengidentifikasi suatu resource di internet.

  • HyperText Markup Language (HTML),yang menyediakan struktur  text-based information pada  Web.

  • HyperText Transfer Protocol (HTTP), merupakan protokol untuk transfer informasi pada jalur internet.

Tim Berners-Lee adalah penemu World Wide Web pada tahun 1989. Tim Berners-Lee merupakan sarjana lulusan Oxford University di Inggris. Ketika kuliah di Oxford, dia sudah bisa merakit komputer sendiri dari barang-barang elektronik bekas TV. Ia menjadi Dewan Pendiri 3Com pada Laboratory for Computer Science, MIT. Setelah lulus dari Oxford pada tahun 1976, Tim Berners-Lee bekerja pada Plessy Telecommunications Ltd. pada bidang system transaksi tersebar, message relay dan teknologi barcode. Pada tahun 1978, Tim Berners-Lee bergabung dengan D.G Nash Ltd. dimana ia membuat software untuk printer cerdas dan Multitasking Operation System.

Selain itu Tim Berners-Lee juga membuat program browser pertama dan server WWW pertama di dunia. Saat ini, browser yang sering digunakan adalah Internet Explorer, Netscape dan Mozilla. Berners-Lee juga menulis piranti lunak yang mendefinisikan Hyper Text Markup Language (HTML), Uniform Resource Locator (URL), dan Hyper Text Transfer Protocol (HTTP). Kesemua aplikasi ciptaannya tersebut saat ini dipergunakan banyak orang untuk menampilkan isi sebuah situs dan protokol bagaimana situs-situs dapat ditemukan di Internet dan berkomunikasi satu sama lainnya. Itulah mengapa Tim Berners-Lee dipercaya menjabat sebagai pengarah World Wide Web Consortium.

Penemuan Tim Berners-Lee atas World Wide Web sendiri diawali ketika ia bekerja di CERN, laboratorium fisika partikel milik Eropa di tahun 1980. Pada saat itu dia hanya dikontrak bekerja selama 6 bulan sebagai perekayasa piranti lunak (software engineer). Oleh karena CERN merupakan institusi multi-nasional, Berners-Lee ingin membuat suatu software yang dapat menghubungkan data-data dan informasi yang dia miliki dan para peneliti lainnya agar lebih efesien. Berners-Lee kemudian menamakan software tersebut Enquire, kependekan dari Enquire Within Upon Everything, judul ensiklopedia yang dia ingat pada masa kecilnya. Software ini kemudian dikembangkannya di luar CERN, sehingga akhirnya berkembang pesat secepat perkembangan jaringan Internet itu sendiri.

Pada tahun 1991 Berners Lee kemudian memperkenalkan browser pertama. Pada waktu itu browser ini belum banyak dipergunakan media WWW, hingga beberapa tahun kemudian Marc Andressen meluncurkan browser yang lebih populer, Mosaic.

Jika Marc Andressen maupun ilmuwan lainnya berhasil menjadi milyuner berkat ciptaannya, Tim Berners-Lee justru memilih tidak mematenkan penemuannya dan tetap konsisten pada bidang penelitian dan pengembangan teknologi. Sikapnya yang rendah hati ini justru mengundang kekaguman dan pujian dari banyak pihak. Diantaranya adalah dari Ratu Elizabeth II sendiri yang menganugerahkan gelar kebangsawanan kepadanya. Selain itu Berners-Lee juga mendapatkan penghargaan Millennium Technology Prize yang merupakan penghargaan bidang teknologi terbesar di bumi pada saat ini. Selain itu peraih penghargaan ini merupakan pemenang pertama hadiah tahunan anugerah Yayasan Penghargaan Teknologi Finlandia.

Saat ini, Tim Berners Lee menjabat Direktur World Wide Web Consortium (W3C) yang berkantor di Massachussets Institute of Technology. W3C adalah sebuah organisasi yang memiliki 400-an anggota dengan staf sekira 40 orang yang tersebar di seluruh dunia.

Tujuan World Wide Web Consortium sendiri adalah mengembangkan teknologi yang dapat digunakan lintas platform (interoperable technologies), menetapkan spesifikasi, aturan-aturan, menciptakan berbagai piranti lunak dan alat-alat lainnya yang dapat mengoptimalkan penggunaan temuannya, World Wide Web. Anggota World Wide Web Consortium terdiri dari Microsoft, Adobe, Intel, Macromedia, Oracle, dan masih banyak lagi. Mereka bekerjasama mengembangkan teknologi yang mengeksploitasi WWW agar dapat digunakan oleh lebih banyak orang. Dengan kata lain tujuan dari pengembangan World Wide Web sendiri adalah membagi ilmu pengetahuan bagi sesama manusia secara universal.

Kalaupun Tim Berners Lee masih belum layak untuk dapat Nobel, saya kira semata-mata karena bidang ilmu yang digelutinya bukanlah bidang ilmu dasar. Namun demikian, dunia TIK telah memberikan apresiasi luar biasa terhadap segala aktivitas keilmuannya. Walaupun bukan Nobel, namun sejumlah penghargaan bergengsi telah diraihnya, antara lain Millennium Technology Prize dari  the Finnish Technology Award Foundation Finlandia, Charles Stark Draper Prize dari National Academy of Engineering (NAE) USA.

Sumber :

Posted in TIK | 3 Comments »

Presentasi Monev Inherent K3 UII

Posted by prayudi on December 21st, 2008

Sebagai bagian dari program monitoring hibah-hibah di lingkungan Dikti, maka pada tanggal 16-17 Desember 2008 bertempat di Ruang Seminar PPTIK UGM dilakukan presentasi bagi penerima hibah Inherent untuk tahun 2007 dan 2008. Tercatat sekitar 43 PT di sekitar Yogya yang diundang untuk melakukan presentasi seputar kemajuan atau hasil akhir yang didapat dari program Inherent.

Saya mewakili UII, mendapat kesempatan melakukan presentasi program Inherent K3 UII pada hari Rabu 17 Desember 2008. Dalam hal ini, Inherent K3 yang didapat oleh UII sebenarnya telah selesai pada tahun anggaran 2007. Sayang untuk tahun anggaran 2008 proposal yang diajukan sebagai kelanjutan dari program tahun 2007 ternyata belum disetujui Dikti. 

Fokus Program Hibah Inherent K3 tahun 2007 ini adalah inisiasi bagi pengembangan pangkalan data dokumen ilmiah di Universitas Islam Indonesia. Konsep UII–RAC (Repository and Archive) adalah merupakan salah satu penjabaran visi dan misi universitas sebagai pusat diseminasi pengetahuan, sebagai bagian dari dakwah Islamiyah serta Rencana Strategis 2006-2010, selain juga untuk memperkuat layanan perpustakaan digital di UII.

Secara umum, evaluasi diri yang difokuskan pada teknologi informasi dan kinerja perpustakaan menunjukkan adanya kelemahan yang sangat signifikan khususnya dari sisi pangkalan data dan pelayanan akses dokumen digital. Saat ini Perpustakaan UII belum mempunyai pangkalan data dokumen karya ilmiah (scientific documents) dosen, mahasiswa, serta produk-produk ilmiah yang lain yang cukup komprehensif dan terpadu. Dari sisi pelayanan, Perpustakaan UII masih sangat lemah dari sisi akses digital (pada khususnya bandwidth). Dengan segala keterbatasannya Perpustakaan UII masih mampu menjalankan aplikasi SIMPUS. Pengembangan fasilitas dengan modul UII-RAC secara sistemik diharapkan akan memperkuat pelayanan portal digital perpustakaan di UII. Melalui program pada hibah K3 diharapkan akan terbangun sistem perpustakaan yang terintegrasi dan  menjadi pemicu keunggulan UII di bidang teknologi informasi. Outcome yang diharapkan adalah adanya peningkatan kualitas layanan informasi kepada sivitas akademika di UII pada khususnya dan masyarakat umum sebagai bagian dari misi penyebaran pengetahuan dan dakwah. Sementara impact yang diharapkan adalah meningkatnya kualitas karya akademik sivitas akademika UII serta meningkatnya academic atmosphire di lingkungan UII.

Secara umum usulan program ini berupa (1) Program Pembuatan Portal UII-RAC (2) Program Peningkatan Kapasitas UII-RAC dan (3) Program Penguatan Akses Perpustakaan Digital. Program Portal UII-RAC (UII-Repository and Archive Catalogue) adalah inisiasi layanan berbasis website yang mampu melayani pencarian dokumen ilmiah di UII. Pembuatan portal difokuskan pada pengembangan sistem perpustakaan yang sudah ada dengan modul sistem yang mendukung pencarian data dokumen. Program peningkatan kapasitas diarahkan pada pembuatan koleksi / pangkalan data (digitalisasi dokumen) yang melibatkan perpustakaan yang ada di UII (pusat dan fakultas) beserta kegiatan pendukung bagi peningkatan kapasitas sumber daya manusianya. Program ketiga penguatan akses difokuskan pada integrasi infrastruktur pada jejaring INHERENT dan peningkatan layanan di perpustakaan agar dapat diakses dengan lebih memadai.

Seluruh kegiatan di atas difasilitasi dengan prasarana dengan memanfaatkan basis infrastuktur yang sudah dibangun di UII serta menghubungkannya dengan INHERENT. Diharapkan pangkalan data ini dapat dimanfaatkan oleh perguruan tinggi lain baik dari model portal yang dibangun serta koleksi yang akan di-upload. Dengan inisiasi portal ini diharapkan pengembangan teknologi informasi sebagai media penghubung dapat dilakukan secara menyeluruh dan komprehensif.

Inherent adalah sebuah program hibah dibidang TIK yang diluncurkan oleh Ditjen Dikti sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas TIK di lingkungan PT. Inherent adalah infrastruktur atau  jejaring raksasa yang menghubungkan seluruh perguruan tinggi negeri, 12 Kopertis, 150 perguruan tinggi swasta di Indonesia. Khusus untuk Perguruan tinggi swasta jumlah partisipannya terus bertambah. Lewat Inherent maka berbagai kerjasama antar PT dapat difasilitasi melalui ketersediaan koneksi intranet Inherent Dikti ini, sehingga konsep sharing antar PT dapat lebih terfasilitasi. Misi utama Inherent adalah Open Resource, Open Content dan Open Source. 

 

 

 

Posted in Uncategorized | 4 Comments »

Flagship Detiknas

Posted by prayudi on December 18th, 2008

Sesuai dengan Kepres No 20 Tahun 2006, maka untuk membantu pemerintah dalam menjalankan sejumlah kebijakan di bidang Telematatika, dibentuklah Dewan TIK Nasional (DetikNas). Diantara programnya adalah : 

  • Merumuskan kebijakan umum dan arahan strategis pembangunan nasional, melalui pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK);
  • Melakukan pengkajian dalam menetapkan langkah-langkah penyelesaian permasalahan strategis yang timbul dalam rangka pengembangan TIK
  • Melakukan koordinasi nasional dengan instansi pemerintah pusat/daerah, BUMN/D, dunia usaha, lembaga profesional, dan komunitas TIK, serta masyarakat pada umumnya dalam rangka pengembangan TIK.
  • Memberikan persetujuan atas pelaksanaan program TIK yang bersifat lintas departemen agar efektif dan efisien

Salah satu keluaran dari DetikNas adalah apa yang disebut dengan 7 Flagship DetikNas. Flagship ini menjadi arahan bagi sejumlah program pemerintah yang sifatnya lintas sektoral. Ke tujuh Flagship DetikNas : 

  1. National Single Window
  2. E-Education
  3. E-Budgeting
  4. National Identity Number
  5. Legal Software
  6. E-Procurement
  7. Palapa Ring 

Tujuh Flagship diatas adalah prioritas program hingga tahun 2010. Ada sejumlah flagship lain yang pada saatnya akan dimunculkan juga sebagai program nasional, antara lain adalah : e-Health, Techno Park, PC murah. 

Implementasi 7 Flagship diatas diharapkan akan turut menggerakan sejumlah industri telematika di Indonesia, yaitu industri terkait pengolah data / komputer, industri perangkat lunak, industri perlatan telekomunikasi dan industri kabel optik. Tumbuhnya sejumlah industri telematika ini tentunya akan menjadi harapan baru bagi perekonomian Indonesia secara umum, kedepan diharapkan industri telematika ini akan menjadi penggerak utama  pertumbuhan ekonomi nasional serta dapat mengisi pasar regional maupun global.

Melalui kebijakan yang diarahkan oleh DetikNas, maka diharapkan pemerintah dapat menjalan sejumlah program yang berkelanjutan sehingga pada tahun 2015 telah dapat  memenuhi sejumlah kriteria Indikator TIK Nasional. Dalam hal ini hingga tahun 2015, diharapkan tercapai Penetrasi PC = 25 Juta, Pengguna Internet = 40 Juta, Telepon Tetap = 37,5 Juta, Seluler = 125 Juta. 

Posted in TIK | 1 Comment »

Podcasting

Posted by prayudi on December 17th, 2008

Salah satu kemajuan teknologi web dan multimedia yang masih asing bagi masyarakat komputer di Indonesia adalah apa yang disebut dengan Podcast.

Menurut sejarahnya, Podcast awalnya adalah dari pengembangan teknologi Pod (iPod) + Broadcast. Suara adalah satu media yang sangat potensial dalam menyampaikan informasi. Radio termasuk salah satu media untuk kepentingan itu. Secara konvensional bila kita memiliki radio, maka setiap kita saat kita bisa mendengarkan setiap informasi yang disampaikan oleh penyiarnya. Nah ketika konsep radio ini dibawa kedalam dunia digital, ternyata ada kendala dalam hal mendapatkan materi-materi yang disiarkan.Tentunya ada kendala teknis yang berhubungan dengan sinyal internet dan bandwidth yang menyebabkan radio digital agak sulit dinikmati.

Untuk mengatasi itu, maka konsep Podcast dikembangkan. Berbeda dengan radio biasa dimana kita mendengarkan materi siaran secara bersamaan dengan penyiarnya menyampaikan /membawakan acara, maka dalam Podcast, kita dapat mengambil file podcast kapan saja kemudian mendengarkannya kapan saja  dan dimana saja. Podcast adalah sebuah Radio dengan konsep anytime anywhere.

Definisi Podcast itu sendiri adalah sebuah file suara/audio yang bisa didownload dari internet untuk didengarkan sebagaimana layaknya sebuah acara radio. Hanya saja ada satu unsur yang membedakan podcast dari sekedar proses mengupload sebuah file audio (biasanya format MP3) ke internet untuk kemudian bisa didownload oleh siapapun, yakni teknologi sindikasi yang dikenal dengan RSS (Really Simple Syndication). Dengan meng-copy paste kode RSS ke RSS Reader seperti iTunes, iPodder atau bahkan yang online seperti Google Reader, maka kita bisa berlangganan file audio tersebut. Tiap ada episode baru, maka otomatis RSS Reader akan memberitahu bahkan otomatis mendownloadnya untuk kita. Dengan demikian Podcast dalam pengertian yang lain sebenarnya adalah sebuah blog bersuara (atau audio blog). Sebenarnya Podcast tidak hanya terbatas pada suara saja, video juga bisa, namun yang lebih popular adalah untuk suara.

Selanjutnya yang dimaksud dengan podcasting merupakan suatu pendistribusian program audio dan video lewat internet yang memberikan keleluasaan kepada subcriber yang tercatat untuk memilih file yang dikehendaki (yang selanjutnya dikenal sebagai feed), yang didistribusikan secara broadcast sebagai program on demand.

Bagaimana mendengarkan Podcast?
 Karena Podcast adalah blog suara, maka secara sederhana kita bisa mendengarkan postingan terbaru materi podcast dengan menggunakan aplikasi pemutar MP3.  Perbedaan utamanya dengan file MP3 lainnya adalah file-file Podcast didapat dengan mekanisme RSS/XML sehingga kita tidak perlu selalu berkunjung ke situs ini, cukup berlangganan dan anda akan mendapatkan rekaman terbaru setiap kali rekaman terbaru tersebut online.

 

Posted in TIK | 3 Comments »

Softskill dan S3D

Posted by prayudi on December 12th, 2008

Dalam setiap wisuda, salah satu yang sering disampaikan oleh pak Rektor kepada para wisudawan adalah pentingnya softskill bagi kesuksesan hidup selanjutnya. Dalam beberapa kali wisuda, wakil dari alumni (umumnya alumni yang sukses meniti jenjang karir hingga berada pada posisi yang bergengsi) sering dijadikan sebagai contoh bagaimana keberhasilan yang bersangkutan ditunjang oleh kemampuan softskill yang baik.

Sebagai seseorang yang sudah mendedikasikan hidupnya sebagai pendidik, maka permasalahan softskill selalu menjadi kerisauan saya. Saya selalu menggugat diri saya, jurusan, fakultas dan UII tentang apa sumbangannya bagi terbetuknya softskill mahasiswa. Tentunya kita tidak bisa menuntut sesuatu yang tidak kita programkan untuk mahasiswa. Dalam hal ini mahasiswa dituntut memiliki softskill yang baik, namun apa program kita untuk mereka sehingga mereka punya softskill yang memadai.

Dalam satu kesempatan saya pernah diskusi dengan pengelola program ONDI, LKID, BTAQ, Mentoring, tentang apakah program-program yang mereka buat itu sudah diarahkan untuk membentuk softskill mahasiswa ataukah belum. Belum lagi sekarang ada program pesantrenisasi mahasiswa, apakah programnya mengarah kepada softskill tidak…? Namun ternyata saya berani mengambil kesimpulan bahwa di UII ini penanganan softskill mahasiswa masih tidak jelas arah dan tujuannya, tidak ada konsep yang matang untuk ini.

Itulah barangkali yang mendorong saya membuat program tersendiri kepada mahasiswa Informatika untuk membangun softskill mereka. Saya merasa mereka adalah anak-anak saya, maka saya bertanggung jawab atas terbentuknya kompetensi dan softskill mereka. Maka sejak 2 tahun lalu di Informatika dikembangkan program Student Soft Skill Development (S3D). Untuk menjalankan program ini saya gunakan dana pengembangan laboratorium, karena memang tidak ada jatah dana untuk kegiatan seperti ini. Ketika memasuki tahun kedua pelaksanaan S3D, maka saya mulai sadar bahwa seharusnya program semacam ini bukan hanya untuk Informatika saja tapi untuk setiap mahasiswa UII. Kalaulah boleh berbagi tanggung jawab, maka seharusnya jurusan lebih focus untuk membentuk hardskill (dalam artian menjalan kurikulum dengan baik) sementara rektorat atau paling tidak dekanat bertanggung jawab terhadap kegiatan2 seputar sofskill ini. Alhamdulillah tahun ini kegiatan S3D diambil alih oleh dekanat dalam pelaksanaannya. Lha bagaimana dengan rektorat..?

Dari informasi kiri dan kanan, ternyata beberapa prodi juga membuat program yang mengarah pada maksud yang sama namun dengan konsep dan implementasi berbeda. Saya yakin setiap prodi sebenarnya punya keinginan yang sama untuk melakukan hal serupa namun barangkali terkendala banyak hal. Melihat hal ini, seharusnya kegiatan terkait dengan softskill ini ditangani oleh Rektorat dengan konsep yang utuh dan terintegrasi serta dengan implementasi yang sistematis. Barangkali polbangmawanya UII perlu ditinjau ulang.    

S3D yang saat ini dikembangkan adalah fokusnya adalah pada penyiapan mahasiswa untuk memiliki mental dan jiwa yang baik dalam memasuki dunia kemahasiswaan. Bagaimana migrasi mereka dari remaja menjadi dewasa disadari dengan betul yang tentunya akan berdampak pada model pendidikan dewasa yang akan mereka terima selama menjadi mahasiswa. S3D sebenarnya bukan segala-galanya untuk pembentukan softskill mahasiswa. Ini hanya langkah awal, atau dalam istilah pak Fathul adalah turning point. Seharusnya ada kelanjutan dari S3D. Impian saya adalah selama mereka kuliah dan sebelum mereka lulus masih ada sejumlah tahapan lain dari kelanjutan S3D ini. Namun terus terang saja tenaga di jurusan sangatlah terbatas dan tidak mampu untuk menangani hal ini. Saya berharap di tingkat rektorat ada unit khusus yang memang concern untuk memikirkan program softskill mahasiswa ini. Dan pada titik akhir, barulah ACC berperan untuk memoles lulusan/wisudawan agar memiliki kesiapan terjun di dunia kerja.

Salah satu permasalahan klasik yang sering terdengar adalah keluhan bahwa lulusan perguruan tinggi ternyata tidak memenuhi kualifikasi yang diharapkan oleh dunia pekerjaan. Keluhannya adalah bahwa lulusan perguruan tinggi umumya memiliki karakteristik sebagai berikut :kurang tangguh, tidak jujur, cepat bosan, tidak bisa bekerja teamwork, minim kemampuan berkomunikasi lisan dan menulis laporan dengan baik. Selain itu keluhan yang juga sering muncul dari para pelaku dunia kerja adalah ungkapan-ungkapan sebagai berikut :  “pintar sih pintar  tapi kok gak bisa bekerja sama dengan orang lain” atau “jago sih bikin konsep, namun sayangnya tidak bisa meyakinkan ide hebat itu pada orang lain”, atau “baru teken kontrak 1 tahun tapi sudah mundur, kurang tahan banting, nih,”.

Kondisi diatas tentunya menjadi masukan dan bahan evaluasi bagi dunia pendidikan. Ternyata ada gap antara apa yang diberikan dalam perkuliahan dengan apa yang akan dihadapi dalam dunia nyata. Dalam hal ini  ada kecenderungan bahwa apa yang diberikan di bangku kuliah tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan di lapangan kerja. Dan gap itu adalah softskill. Kemampuan nonteknis yang tidak terlihat wujudnya (intangible) namun sangat diperlukan itulah prinsipnya yang disebut dengan softskill. Menurut penelitian di Eropa, kesuksesan seseorang di dunia kerja 80% ditentukan oleh kemampuan softskill dan 20% kemampuan hardskill.

Umumnya dalam setiap pekerjaan, seseorang harus memiliki 4 hal yaitu  :

  • pengetahuan atau keterampilan khusus atau kompetensi teknis (hard skill), termasuk di dalamnya juga pengetahuan mengenai industri atau organisasi;
  • pengalaman di suatu bidang atau sering dikenal sebagai jam terbang;
  • kompetensi perilaku atau sering juga disebut soft skill/managerial skill dan
  • kepribadian.

Menurut survei dari National Association of College and Employee (NACE), USA (2002), kepada 457 pemimpin, tentang 20 kualitas penting seorang juara. Hasilnya berturut-turut adalah :

  1. kemampuan komunikasi,
  2. kejujuran/integritas,
  3. kemampuan bekerja sama,
  4. kemampuan interpersonal,
  5. beretika,
  6. motivasi/inisiatif,
  7. kemampuan beradaptasi,
  8. daya analitik,
  9. kemampuan komputer,
  10. kemampuan berorganisasi,
  11. berorientasi pada detail,
  12. kepemimpinan,
  13. kepercayaan diri,
  14. ramah,
  15. sopan,
  16. bijaksana,
  17. indeks prestasi (IP >= 3,00),
  18. kreatif
  19. humoris, dan
  20. kemampuan berwirausaha.

Terlihat, IP yang kerap dijadikan sebagai indicator kehebatan seorang mahasiswa ternyata berada dalam urutan ke Urutan yag diatasnya malah hal-hal yang umumnya dijadikan sebagai syarat standar dalam iklan lowongan pekerjaan.

Bercermin kepada data tersebut, maka softskill adalah sesuatu yang sangat penting. Hanya saja bagaimana strategi agar softskill ini menjadi bagian dari aktivitas kampus atau perkuliahan. Dalam hal ini menurut Patrick S. O’Brien dalam bukunya Making College Count, soft skill dalam masa perkuliahan dapat dikategorikan ke dalam 7 area yang disebut Winning Characteristics, yaitu,

  1.  communication skills,
  2. organizational skills,
  3. leadership,
  4. logic,
  5. effort,
  6. group skills, dan
  7. ethics.

Seyogyanya, setiap dosen memiliki model dan metode yang sama dalam menyisipkan proses pembentukan softskill lewat aktivitas perkuliahannya.

Umumnya materi-materi kurikulum dan model deliverynya lebih ditumpukan pada aktivitas yang mengarah pada  hard skill. Tentu kedepan hal ini harus diubah orientasinya agar materi kurikulum juga mengarah pada  pengembangan soft skill.  Paling tidak dengan menerapkan 7 aktivitas diatas.

Konsep pengembangan softskill kadang disebut juga dengan istilah hidden curriculumn. Maknanya adalah serangkaian aktivitas yang sifatnya adalah non SKS namun menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kurikulum resmi yang berSKS.

Pada beberapa perguruan tinggi Implementasi soft skill tersebut dapat dilakukan baik melalui kurikulum maupun kegiatan ekstrakurikuler. Ada juga perguruan tinggi yang memasukkannya sebagai aktivitas wajib namun non SKS dalam bentuk kegiatan workshop, misalnya Presentation and Writing Skills atau Book Review. Di sebuah perguruan tinggi lain hal-hal terkait dengan softskill secara teoritis malah diberikan nilai SKS dalam bentuk mata kuliah character building. Beberapa perguruan tinggi memilah softskill dari sisi kegiatan di kelas dan luar kelas, dalam kelas dititipkan pada setiap dosen sementara yang luar kelas diserahkan pada berbagai aktivitas ekstrakurikuler mahasiswa. 

Salah satu upaya yang menarik untuk membentuk softaskill mahasiswa adalah apa yang dilakukan oleh STT Telkom. Di STT Telkom ini  pengembangan soft skill diarahkan pada kegiatan nonakademik. Implemenyasinya adalah dalam bentuk adanya konsep Transkrip Aktivitas Kemahasiswaan (TAK). TAK ini merupakan syarat ikut wisuda dan akan diberikan mendampingi transkrip akademik saat mahasiswa lulus. Mahasiswa diwajibkan untuk mengikuti berbagai aktivitas dan setiap aktivitas memiliki skor tertentu, selanjutnya mahasiswa baru layak untuk diwisuda bila skor TAKnya telah memenuhi batas minimal nilai tertentu. Maka berbagai aktivitas mahasiswa dari mulai aktivitas di himpunan, menulis artikel di media massa, peserta lomba, asisten praktikum, anggota kelompok seni dan olahraga tertentu, menjadi peserta pertandingan, dll semuanya akan menyumbang skor tertentu yang terekan dengan baik dalam TAK. Tentunya fokusnya bukan hanya sekedar skor, tapi dibalik setiap aktivitas kemahasiswaan yang diikuti sebenarnya telah terasah satu karakter softskill tertentu.  

Bagaimana dengan peran dosen..? Kuliah adalah investasi berharga bagi masa depan mahasiswa. Salah satu yang seharusnya dilatih semasa kuliah adalah belajar untuk belajar. Belajar untuk melakukan proses, agar logika dan keterampilan kita terasah. Untuk terbentuknya softskill mahasiswa salah satu faktor  yang sangat berpengaruh adalah dosen. Maka, attitude dosen juga menjadi  living example dari terbentuknya softskill mahasiswa. Perilaku dosen dalam datang tepat waktu, koreksi tugas, komunikasi dalam dan luar kelas,mengoreksi tugas,dsb. adalah salah satu yang akan berkontribusi bagi terbentuknya softskill mahasiswa. Dalam hal ini NKD (Nilai Kinerja Dosen) harusnya dimaknai pula sebagai umpan balik bagi dosen dalam hal memfasilitasi terbentuknya sofskill mahasiswa. Dosen dengan attitude yang baik tentunya akan berkorelasi dengan nilai NKD yang juga baik.

Dengan uraian panjang lebar diatas, maka sudah seharusnya masalah softskill ini ditangani secara terpadu.  Kalaupun program-program bidang 3 di UII saat ini sudah mengarah pada pembentukan softskill, namun arah tersebut tentunya harus lebih  jelas dan lebih terintegrasi, dan tersosialisasi. Karena hingga saat ini saya masih merasa bahwa pengembangan softskill di UII masih belum jelas wujudnya.

(Tulisan ini terinspirasi oleh postingan sebuah milis yang di tulis oleh : dewi irma dengan alamat email :  kampus_pr@yahoo.com)

Posted in Uncategorized | 5 Comments »

Integrasi eXe dengan Moodle

Posted by prayudi on December 11th, 2008

Apa bedanya eXe dengan Moodle..? , bagi mereka yang sudah aktif menggunakan klasiber, barangkali pertanyaan tersebut adalah wajar dikemukakan. Termasuk saya juga. Moodle adalah LMS (Learning Management System) sedangkan eXe adalah content authoring. Memang dua benda yang agak berbeda, walaupun sebenarnya dalam Moodle ada sebagian kemampuan untuk kepentingan content namun fokusnya moodle mamang pada management. 

Setelah saya coba membuat modul dengan eXe, ternyata proses untuk integrasinya dengan moodle juga cukup mudah. Langkahnya adalah : 

  • Export dulu materi yang telah dibuat dengan menggunakan pilihan IMS content package. 
  • Kemudian pada moodle, sisipkan pada add resource dengan pilihan IMS content package juga.
Ya .. cukup dua langkah utama itu saja yang perlu kita lakukan untuk mengintegrasikan eXe dengan Moodle. Silahkan di coba, mumpung masih ada 3-4 kali lagi pertemuan, maka cobalah salah satu materinya dibangun dengan menggunakan eXe. Kesan pertama menentukan, selanjutnya…… terserah anda…..!!!!
Untuk bapak dan ibu dosen, besok pas UAS jangan kemana-mana yach…., kita mau ngadakan acara upgrading technology tentang content development, biar gak ketinggalan jaman.

Posted in TIK | 1 Comment »

 
FireStats icon Powered by FireStats